Buletin Muslim Pelajar edisi 7 : Agar Diri Ini Tak Lagi Berkata, Kalian Semua Suci Aku Penuh Dosa

0
734
views

AGAR DIRI INI TAK LAGI BERKATA, KALIAN SEMUA SUCI AKU PENUH DOSA

 

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa seorang yang (karena tak mampu menahan nafsu) mencium seorang perempuan. Dia menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan musibah yang menimpanya itu. Kemudian diturunkanlah kepada Rasulullah ayat,

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” [Hud/11: 114]

Orang itu bertanya, “Apakah ini hanya untuk saya?” Rasulullah menjawab, “Bagi siapa pun dari umatku yang melakukannya.”  [Shahih, Al-Bukhari hadits No. 4687]

Ada yang terserak di hatiku saat kurasa semangat sholatku berada di titik nadir. Berawal dari pencarianku akan keutamaan-keutamaan sholat wajib 5 waktu, di sinilah aku terduduk sekarang. Membaca hadits di atas menyadarkanku betapa Allah menjadikan sholat sebagai ibadah yang begitu istimewa. Ini adalah awal mula tetes kebahagian di telaga hatiku. Di tengah perenunganku, Allah menjawab kegalauan ini, ya benar, aku tengah termangu akan banyaknya dosa di masa lalu dan kesalahan yang terus menghantuiku. Dan di sinilah aku tersadar bahwa sholat 5 waktu bisa menjadi solusi dari permasalahan ini.

Aku telah sering mendengar bahwa sholat adalah syarat syafaat, sholat adalah munajat, sholat adalah jalan pertolongan, sholat adalah tanda keimanan, sholat mencegah perilaku keji dan munkar, sholat adalah cahaya, sholat mengantakan pada jamuan surga, sholat bisa jadi lebih utama dari bakti pada orang tua, sholat adalah penghibur hati. Tetapi sholat sebagai pendakian meraih ampunan adalah sesuatu yang jarang dihikayatkan, akan aku cari.

“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berangkat ke rumah Allâh (masjid) untuk menunaikan salah satu kewajiban yang diperintahkan Allâh maka salah satu dari tiap-tiap dua langkahnya akan menghapuskan kesalahan dan yang lainnya akan meninggikan derajat.[Shahih: HR. Muslim (no. 666) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Aha aku ingat, langkah kakiku menujumu adalah suatu amalan tersendiri.

“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.’“ [ Shahih, Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469 ]

Oh dudukku menunggu hadirmu menghadirkan doa malaikat untukku.

Sungguh, para malaikat mendoakan salah seorang dari kalian selama dia masih di majlisnya, (mereka) berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dia! Ya Allah, rahmatilah dia!’ selama dia tidak berhadats di situ. (Mereka juga mendoakan) salah seorang dari kalian yang mengerjakan shalat selama dia berada di dalam shalat.” [ Shahih, Imam Muslim 1/459 ]

Dan tatkala kuawali dengan takbiratul ihram hingga kuakhiri dengan salam tak hentinya doa ampunan itu terlantunkan.

“Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” [ Shahih Syaikh Ahmad Syakir, Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106 ]

Bahkan dudukku selepasmu tak hentinya mendatangkan pemohonan ampun malaikat.

Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, akan diampuni dosa-dosa di antara amalan-amalan tersebut selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” [ Shahih, Imam Muslim no. 233 ]

Tidak berhenti di situ, dosa antara sholatku ini dengan yang sebelumnya dapat terampuni.

Tidaklah seseorang berwudhu, sehingga dia membaguskan wudhunya, lantas dia mengerjakan shalat, kecuali diampuni dosa-dosanya antara shalat itu dengan shalat berikutnya.” [ Shahih, Imam Muslim hadits No. 227 ]

Bahkan kekhilafanku hingga sholat setelahnya berkemungkinan mendapatkan pengampunan.

“Tidaklah seorang muslim yang didatangi waktu shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melainkankan sholat itu menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu selama ia tidak melakukan dosa besar, dan itu berlaku sepanjang masa.” [ Shahih, Imam Muslim no. 228 ]

Aku baru tahu, kesempatan dimaafkannya dosa yang telah lalu, yang selama ini kukejar kesana kemari ternyata 5 kali sehari menghampiriku. Aku jadi mengerti sekarang mengapa Rasulullah sampai bersabda pada para sahabat,

“Bagaimana menurut kalian, sekiranya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya meski sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” [ Shahih, Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667 ]

Dari sini terjawab sudah getir hati tak berkesudahan. Bahwa sholatku tak boleh lagi hanya sebagai pemenuhan kewajiban melainkan usaha menyongsong ampunan. Bukankah itulah yang diperintahkan Rasul? Mengiringi kesalahanku dengan sholat bersama taubat? Bahwa aku tak boleh lagi berhenti hanya sampai mencaci cela diri namun tak kunjung mengupayakan perbaikan hakiki. Kan kusudahi putus asa ku, kan kusudahi bebal diriku, kan kusudahi beku hatiku ini, kan kusudahi lisanku dari berkata, kalian semua suci aku penuh dosa. Bukankah Allah telah jadikan terang bagiku jalan selamat dari binasa?

Note : ampunan ini hanya bagi yang menjauhi dosa besar atau yang telah bertaubat darinya, sebagian mensyaratkan kesempurnaan wudhu dan hadirnya kekhusyukan.

 

PERMISALAN SUNGAI

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,

“Perumpamaan shalat lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir deras di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” [ Shahih, Imam Muslim no. 668 ]

===

PENJELASAN ULAMA

Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan :

“Golongan Murji’ah menjadikan zhahir hadits ini dan hadits sebelumnya sebagai hujjah untuk menyatakan bahwa kebaikan dapat menghapus dosa2 besar dan dosa2 kecil.

Sedangkan jumhur ulama Ahlus Sunnah hanya mencukupkan dengan dosa2 kecil saja dengan membawakan pengertiannya yang mutlaq kepada yang muqayyad.” [ Fath Al-Bari 2/12 ]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Shalat lima waktu, dan dari shalat Jum’at ke shalat Jum’at, adalah sebagai penghapus dosa2 diantaranya, selama dosa2 besar dijauhi.” [ Shahih Muslim 1/209 no.233 ]

Senada dengan itu, Al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah juga mengatakan :

“Dosa yang dilakukan oleh laki2 itu (yang disebutkan dalam hadits) dan yang ia tanyakan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian disebabkan hal tersebut Allah lalu menurunkan ayat Al-Quran (surat Hud ayat 145), maka itu adalah termasuk dari dosa2 kecil.

Dan madzhab yang diambil oleh kebanyakan ulama adalah bahwa shalat itu dapat menghapus dosa2 kecil selain dari dosa2 besar. Dan demikian pula wudhu. Bedanya adalah bahwa shalat dapat menghapus dosa lebih banyak dibandingkan dengan wudhu.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Salman Al-Farisy radhiyallaahu ‘anhu :

“Wudhu itu dapat menghapus dosa2 kecil. Sedangkan berjalan menuju mesjid dapat menghapuskan lebih banyak lagi daripada wudhu. Adapun shalat, maka ia menghapuskan dosa2 kecil lebih banyak lagi dibandingkan berjalan menuju mesjid.” [ Fathul Bari 4/205 ]

Kemudian di tempat lainnya, al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah juga mengatakan :

“Dan telah ber-istidlal dengan hadits itu sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa sesungguhnya shalat itu menghapuskan dosa2 besar dan dosa2 kecil.

Akan tetapi jumhur ulama mengatakan bahwa sesungguhnya dosa2 besar itu tidaklah terhapus dengan shalat melainkan ia terhapus dengan taubat.

Jumhur ulama mengatakan : “Penghapusan dosa dengan shalat ini adalah umum (untuk dosa2 kecil) yang dikecualikan darinya dosa2 besar dengan apa yang diriwiyatkan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Shalat lima waktu, dari shalat Jum’at ke shalat Jum’at, dari shaum Ramadhan ke shaum Ramadhan adalah penghapus dosa2 diantaranya, selama dosa2 besar dijauhi.” [ Fathul Bari 4/221-222 ]

Lalu beliau rahimahullah menambahkan :

“Dalam hal ini juga diriwayatkan dari ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Tidaklah seorang muslim yang mendapati waktu shalat wajib, kemudian ia membaguskan wudhu-nya, khusyu-nya dan juga ruku’-nya melainkan akan dihapuskan darinya dosa2 yang sebelumnya, selama dia tidak melakukan dosa2 besar. Dan ini berlaku di setiap zaman.” [ Shahih Muslim 1/206 no.228 ]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Demi Dzat yang diriku berada dalam tangan-Nya, sungguh tiadalah seorang melaksanakan shalat yang lima, shaum di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menjauhi 7 dosa besar, melainkan akan dibukakan untuknya pintu2 surga, kemudian dikatakan kepadanya : “Masuklah kedalam surga dengan selamat.” [Shahih ibnu Hibban 5/43 no.1748, Sunan An-Nasa’i al-Kubra 2/5 no.2218, Mustadrak al-Hakim 1/316 no.719.  Imam Al-Hakim rahimahullah mengatakan : “Hadits ini shahihul isnad.”  Adapun Syaikh Albani rahimahullah dalam Dha’if Sunan An-Nasai mengatakan : “Dha’if.” ]

“Barangsiapa yang datang dalam keadaan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menjauhi dosa2 besar, maka baginya surga.” [ Syaikh Su’aib Al-Arnauth rahimahullah mengatakan tentang hadits ini : “Hasan dengan keseluruhan jalannya.”Adapun Syaikh Albani rahimahullah mengatakan dalam Shahih Sunan An-Nasa’i : “Shahih.” ]

“Shalat yang lima menghapuskan dosa2 yang terjadi diantaranya, selama menjauhi dosa2 besar.” [ Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu dalam Fathul Bari 4/222 ]

“Ibnu ‘Abdil Barr dan yang lainnya telah meriwayatkan adanya ijma’ tentang hal ini, yaitu bahwa dosa2 besar tidaklah dapat dihapus dengan shalat yang lima waktu, akan tetapi shalat yang lima waktu ini hanya khusus menghapuskan dosa2 kecil saja.” [ Fathul Bari 4/222-223 ]

“Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” [ Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam Bahjatun Nazhirin, 2: 234 ]

Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil. [ Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501 ]

Maksud “perbuatan-perbuatan yang baik” dalam surat Huud ayat 14 di atas adalah shalat lima waktu. Karena ayat ini dalam konteks membicarakan masalah shalat. Tafsiran ini adalah tafsiran dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan yang buruk dalam ayat tersebut adalah dosa-dosa kecil dan bukan semua dosa. [ Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 3/388, Mawqi’ At Tafaasir. ]

Bahkan dikuatkan pula dengan ayat dalam surat An Nisa’,

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An Nisa’: 31). “Kesalahan-kesalahanmu” ditafsirkan dengan dosa-dosamu yang kecil sebagaimana yang dikatakan oleh As Sudiy [ Zaadul Masiir, 2/22 ]

Dalam tafsir Al Jalalain juga dikatakan bahwa yang dimaksudkan adalah dosa-dosa kecil dan dosa tersebut dihapus dengan ketaatan [ Tafsir Al Jalalain, hal. 83, Maktabah Ash Shofaa, cetakan pertama, 1425 H. ]

“Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amalan ketaatan, di antaranya adalah shalat wajib. Antara shalat Shubuh dan Zhuhur, Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya, Isya dan Shubuh, di dalamnya terdapat pengampunan dosa (yaitu dosa kecil) dengan sebab melaksanakan shalat lima waktu.

Namun perlu diketahui bahwa dosa-dosa kecil ini bisa terhapus dengan amalan wajib apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Pendapat inilah yang dianut mayoritas ulama salaf. Artinya, menjauhi dosa besar merupakan syarat agar dosa kecil itu bisa dihapus dengan amalan-amalan wajib. Jika dosa besar tidak dijauhi, maka dosa kecil tidak bisa terhapus dengan sekedar melakukan amalan wajib.” [ Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 204-205, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H. ]

“Shalat lima waktu menghapuskan setiap dosa di antara waktu-waktu tersebut selama seseorang menjauhi dosa besar.” [ Ibnu Mas’ud dalam Jaami’ul ‘Ulum, hal. 205. ]

“Jagalah shalat lima waktu karena shalat lima waktu adalah pelebur dosa yang diperbuat tubuh ini selama seseorang tidak melakukan dosa pembunuhan.” [ Salman al farisy dalam Jaami’ul ‘Ulum, hal. 205. ]

“Adapun dosa besar bisa terhapus dengan taubat nashuhah” [ Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 206. ]

“Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat. “ [ Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk, hal. 409 ]

====

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here