Mengeja Arti Kesungguhan – Part 2

0
174
views

Update: Artikel ini terdiri dari beberapa bagian. Simak cerita selengkapnya: Part 1 dan Part 2 !

(sebuah Kisah Perjalanan Menghafal Al Quran*)

Update: Alhamdulillah anak yang diceritakan di kisah ini sudah selesai menghafal 30 juz beberapa waktu lalu**

(Diambil dari kisah nyata pelajar Yogyakarta)

Waktu itu, di awal tahun kedua kami menjalani masa SMA. Masih tentang anak penghafal quran itu, pada waktu istirahat, atau selepas pulang sekolah, menjelang waktu shalat atau sesudahnya, kami bersama-sama teman-teman yang lainnya seringkali berkumpul di pintu masjid sekolah, bercerita, “mengigau”, ngobrol nggak jelas sana sini, mengkhayalkan satu dan lain impian dan keinginan, yang jika dinalar pada saat itu, hampir mustahil kami mewujudkannya. Ingin membuat kampus islam sendiri yang terpisah mahasiswa dan mahasiswinya, membuat perumahan muslim sendiri bersama teman-teman, ingin membeli gedung yang sekarang jadi toko buku di pusat kota kami, dan berbagai “khayalan” lainnya, masih kuingat betul ia ucapkan kala kami bercengkerama.

Maka diantara slengekan dan kelakar-kelakar di pintu masjid itu, ada pula mimpi antimainstream lainnya, mimpi yang diutarakan si anak itu, yang waktu itu masih meraba-raba menghafal quran.

Ia bermimpi untuk dapat selesai menghafal Quran sebelum lulus S1, atau maksimal sebelum menikah. Mimpi antimainstream yang diucapkan seorang pelajar SMA negeri, yang hampir-hampir tak memiliki modal menghafal quran.

Ia utarakan ajakannya, untuk mulai serius menghafal quran, namun dimulai dari bagian depan, dari Al-fatihah, albaqarah, terus berjalan ke belakang. Mendengar mimpi ini, -seperti mimpi2 lainnya-, diri ini hanya tertawa, menganggukan kepala. Mengiyakan, padahal sama sekali tidak tahu bagaimana caranya.

Menghafal surat Al-Baqarah? sama sekali tidak terbayang hitung2annya, piye jal ngapalkene, nghafalin satu ayat di LKS agama saja bisa seminggu lamanya, lah ini ngafalin albaqarah? 286 ayat? Hampir 3 juz, puluhan halaman? Fix ngimpi neh iki. Lha wong mikirke pelajaran we mumet kok, kok meh ngapalne quran.

Dia pun mulai menghafalkan, dengan segala “rintangannya”, start di kelas 1 SMA dengan modal kurang dari satu juz hafalan, di kelas dua, mulai dari al-baqarah.

Biasanya setiap habis subuh 1 halaman dihafalkannya, kemudian di perjalanan menuju ke SMA (yg biasanya masuk jam set 7), di atas motornya, ia coba ulang halaman yang baru saja dihafalkannya. Terus seperti itu, hingga alhamdulillah, lulus SMA dia bisa menghafal kurang lebih 10 juz.

Berlanjut di dunia kampus, di sebuah kampus di Jawa Tengah, ia lanjutkan program hafalannya. Perlahan tapi pasti, tiga setengah tahun kemudian, pada akhirnya, sekitar 3 bulan setelah wisuda S1 nya, alhamdulillah, 30 juz selesai dihafalnya.

Alhamdulillah, akhirnya mimpi itu diraihnya juga. Mimpi yang pada awalnya hanya seperti asal diucapkan, alhamdulillah, Allah mudahkan dan kabulkan. Padahal, kalau dinalar, dengan modal nyaris-0 di awal SMA, tampaknya ia tak mungkin bisa selesai menghafal. Apalagi SMA dan kampusnya hanyalah SMA dan kampus negeri pada umumnya, tak ada pelajaran menghafal disana. Tidak ada fasilitas khusus, bahkan sejak 06.30 hingga 14.00, hampir full belajar mata pelajaran biasa, itupun belum ditambah beban ulangan harian, remedial, remedial lagi, remedial lagi, dst.

Tapi nyatanya, ia selesai menghafalkannya. Terang sekali, kiranya, tentu setelah rahmat dan kemudahan dari Allah, ada kesungguhan yang ia eja dalam kesehariannya, mengejar mimpi menghafal qurannya.

Kesungguhan, yang sebenarnya bisa dimiliki setiap kita, siswa-siswa maupun mahasiswa-mahasiswa lainnya. Bisa, seandainya mereka menginginkannya.

Semuanya. Semuanya insyaAllah bisa juga meraihnya (menghafal quran dengan basic pelajar/mahasiswa umum).

Namun terlalu jauh sepertinya, karena bahkan cita-cita menghafal quran, atau cita bisa membaca kitab para ulama, mungkin tak pernah terlintas dalam hati kita.

Tak usahlah beralasan “Ah sulit bor” “Ah aku nggak pinter” atau alasan klise lainnya. Tak perlu, tak usah. Alasan itu sama sekali tiada tepatnya.

Karena jauh sebelum kita beralasan, seringkali kita sudah tidak fair terhadap diri kita sendiri. Kita tidak fair, kepada agama kita, tentang menerjemahkan arti kesungguhan. Kita tidak adil, terhada kitab dan wahyuNya, dalam mengeja arti perjuangan.

Sudahkah kita pernah mengukur, betapa seringnya kita mati-matian mengejar obsesi-obsesi duniawi kita.

Ingatkah kita, ketika dulu SD, betapa lamanya kita belajar, mengejar SMP yang dicita-cita. Lepas SMP, kita bertatih letih belajar, mengikuti bimbel, les hingga larutnya hari, hanya tuk meraih SMA yang dicita-cita. Di SMA pun begitu pula, mengurung diri dalam kamar tuk belajar, meniti soal demi soal, mengeluarkan uang berjuta-juta, “hanya” agar bisa masuk kampus yang juga “dicita-citakan”. Terus seperti itu, berhari-hari mencari data tuk skripsi, puluhan bahkan ratusan juta dikeluarkan demi barisan huruf gelar sarjana. Terus seperti itu, sampai mencari kerja, terus sampai menua, terus sampai maut menjemput kita.

Sungguh kita rela menghabiskan semuanya tuk obsesi dunia, tapi betapa pelitnya kita, betapa rendahnya semangat kita tuk membuktikan cinta kepada kitabNya?

Betapa sering kita berpusing, murung, bersedih menangis ketika kita menemui kesulitan duniawi, ketika tak diterima jurusan idaman, atau harus mengulang di ujian selanjutnya, atau ketika sulit memahami pelajaran, betapa sering mendung hati kita karenanya.

Namun, pernahkan kita sedih bermurung diri, ketika kita hingga sedewasa ini, Al-Quran masih belum pula selesai dihafalkan, jauh sekali dari selesai mempelajarinya. Tak, hampir tak ada yang menangis. Bahkan ketika seumur hidup belum sekalipun khatam membaca, kita pun acuh memikirkannya.

Maka tak usahlah banyak beralasan “Aku tak mungkin menghafal quran” “Aku lambat menghafal” dan alasan lainnya.

Tak. Tak usah. Mungkin kita lupa, dulu kita pada usia kanak-kanak kita, mengeja bilangan sampai puluhan pun kesusahan. Namun kini, beratus-ratus hingga huruf pun bisa kita kali jumlahkan.

Ya, kita begitu sangat bersemangat tuk belajar dalam ilmu dunia. Uang, RAM otak, waktu, kita kejar, kalau perlu sampai jabatan profesor bersanding dengan nama. Namun betapa kita sangat berpuas diri “ah cukuplah bisa membaca quran” “ah udahlah ampuh kan yang penting pas SD udah pernah khatam”.

Seperti itu, amat bertolak belakang dibanding semangat kita mengejar dunia.

Tapi kita betapa acuh dan tak peka nya terhadap Al-Quran, terhadap urusan agama. Belum tentu seminggu sekali kitab itu kita buka. Belum tentu setahun sekali kita membaca tafsirnya. Menghafalkan isinya? Ah tidak usahlah, kecuali kalau guru agama mau mengujikannya.

Padahal kita tahu, gelar dunia itu tiadalah banyak berguna. Ijazah SD-mu saat ini, mungkin tak laku lagi ketika kau jajakan. Seabreg rumus sakti yang kau hafalkan, tiga hari setelah ujian pun akan kau lupakan. Terus seperti itu. Sesuatu yang sampai stress kau kejar, ternyata kau buang begitu saja.

Betapa kita sering bermati-matian mengejar dunia, padahal kita tahu kalau kita kan segera “membuang” atau meninggalkannya. Habis waktu kita tuk mengejarnya, dan sesingkat waktu kemudian kita pun akan lupa atau dilupakan olehnya.

Namun betapa jahatnya kita, ketika untuk Al-Quran, petunjuk yang kita butuhkan dalam tiap tarikan nafas hidup kita di dunia, kita sisakan amat sedikit waktunya.

Betapa lalimnya kita, ketika kita lebih menghabiskan effort mengejar dunia, hanya tuk mendaftar kerja, mencari SMA, kampus, ijazah dan selainnya, lalu kita melepas Al-Quran dan ilmu agama yang bahkan kita butuhkan sebagai bekal hingga kehidupan setelah mati kita.

Mengapa kita tukarkan yang selamanya dengan obsesi obsesi sekelebatan mata?

Sungguh kita sudah tidak adil kepada kitab dan wahyuNya.

Maka tak usahlah beralasan “Ah tak mungkin aku bisa menghafal quran, aku ini anak sekolahan, aku ini calon insinyur, diajarinya rumus ini itu. menghafal quran, itu biar urusan anak pesantren lah. Menghafal quran itu sulit”.

Tak. Tak usahlah beralasan.

Pernahkah kau lihat ada anak usia sekolah dasar yang bisa mengerjakan soal semacam trigonometri, atau berbaris-baris matriks perhitungan? Tak, mungkin hampir tak pernah kita dapati. Tapi betapa sering kita temukan, anak-anak yang selesai menghafal quran di usia belia mereka, di usia kanak-kanak mereka. Apakah kita kalah “cerdas” dibanding anak-anak itu?

Tak, ini bukan masalah kecerdasan. Menghafal quran hanya membutuhkan kesungguhan dan kebersihan hati tuk menjaganya. Ya, menghafalkannya jauh lebih mudah daripada menghafal rumus atau panjangnya reaksi kimia.

Namun begitu mirisnya, kita tak sisakan waktu tuk menghafal quran, kecuali amat sedikit saja.

Sungguh, tak perlulah banyak beralasan.

Karena ini bukanlah masalah mampu atau tak mampu, tapi ini adalah perihal mau atau tidak mau.

Bukan pula bisa atau tidak bisa, tapi ini adalah masalah prioritas dan kejujuran hati.

Untukmu wahai saudaraku, betapa kita amat butuh petunjukNya dalam tiap detik hidup kita. Al-Quran menjawab itu semua, dan Allah menurunkannya untuk kita. Lalu mengapa kita tak sisakan waktu untuknya?

Tak usahlah banyak beralasan lagi, karena barangkali hati kita sudah telanjur tertutup meninggalkannya.

Barangkali karat-karat hati telah menahun, hingga terangnya cahaya Quran pun tak mampu diserap atau dipantulkannya.

Barangkali, ia terlampau sakit, hingga lezatnya Quran pun tak lagi enak terasa.

Yogyakarta, penghujung bulan Muharram 1439H

👤 Ditulis oleh Tim Penulis Majeedr
(Semoga Allah jadikan Ia, pasangannya, dan Keluarganya sebagai Ahlul Quran)

♻ Silakan disebarluaskan
═══ ¤❁✿❁¤ ═══
Follow us !
Facebook : https://facebook.com/majeelisdakwahremaja
LINE : http://line.me/ti/p/%40majeedr (@majeedr)
Instagram : https://instagram.com/majeedr1 (@majeedr1)
Telegram : t.me/majeedrofficial (@majeedrofficial)
Twitter : https://twitter.com/majeedrofficial
Website : www.majeedr.com
Majeedr TV : bit.ly/majeedr

Akun Kemuslimahan Majeedr (Bashira),
BASHIRA
Facebook: facebook.com/letsstudyislam (Bashira)
[email protected]http://line.me/ti/p/%40bashira (@bashira)
Instagram: https://instagram.com/bashiraofficial (@bashiraofficial)
Telegram: t.me/bashiraofficial (@bashiraofficial)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here